Posted by : Sanguine bercerita tentang hidup Kamis, 01 Mei 2014



Tahun 2014 menjadi tahun penting bagi Indonesia, sejarah baru akan segera dimulai. Gegap gempita mulai terasa sejak akhir 2013, dimana Bangsa Indonesia akan segera memiliki Presiden baru, sehubungan dengan dua kali terpilihnya Presiden SBY. Sejak Pemilu 2004, Pemilihan Presiden dilakukan secara langsung, Rakyat sendiri yang menentukan siapakah yang pantas menjadi pemimpin bangsa. Seiring berjalanya waktu, simpati rakyat terhadap Pemilu semakin menurun, ini dibuktikan dengan tingginya angka golput di tiap – tiap daerah. Pemilu yang seharusnya menjadi momentum perbaikan bangsa nampaknya kini hanya menjadi ajang peralihan kekuasaan dan untuk memenangkan kepentingan golongan. melihat kondisi seperti ini nampaknya rakyat trauma dengan kepemimpinan sebelum sebelumnya dan merasa jera untuk memilih. Alih alih untuk menentukan nasib bangsa lima tahun mendatang, toh hasilnya tidak akan jauh berbeda.
Menjelang Pemilu, banyak bermunculan gerakan gerakan pro rakyat miskin, mulai dari bantuan pendidikan, hingga bantuan dana untuk keagamaan. Gerakan – gerakan seperti ini ternyata merupakan salah satu bentuk pencitraan dari calon untuk memikat hati rakyat sehingga ketika pemilu nanti rakyat memilih calon tersebut. Namun begitu pemilu usai, gerakan gerakan sosial ini kemudian menghilang dengan sendirinya. Bagaimana nasib rakyat selanjutnya? Nasib rakyat bergantung bagaimana pemimpin yang telah dipilih, sayangnya setelah terpilih, para pemimpin tersebut pura pura lupa bahwa masih memiliki hutang janji. Berkaca pada pemilu legislatif, 9 april lalu. Masyrakat nampaknya masih tergoda dengan iming iming uang dan semacamnya. Meskipun sosialisasi pemilu bersih dilakukan di daerah – daerah, langkah tersebut tidak mempan mengatasi. Rakyat kecil tentu tidak akan berkata tidak untuk “duit”, hal ini wajar terjadi. Daripada mengenal satu persatu siapa yang mencalonkan, latar belakang calontrack record calon, masyarakat cenderung memilih yang memberikan pesangon, tanpa harus kenal calon. Toh janji – janji para calon juga hanya sekedar janji dan pesangon yang diberikan bisa jadi adalah uang rakyat, yang dikeruk kemudian dikembalikan lagi kerakyat.



Perubahan menjadi Indonesia yang lebih baik menjadi harapan besar rakyat, namun Indonesia menjadi jauh tidak lebih baik. Korupsi bermunculan dimana – mana, partai politik menjadi kendaraan utama untuk mengeruk uang rakyat melalui peselingkuhan antara legislatif dan eksekutif. Banggar DPR yang diharapkan mempermudah pembahasan rencana anggaran justru menjadi ajang bancakan partai politik. Titipan proyek menjadi modus untuk mendapatkan fee dari rekanan. Parpol berburu pendanaan dari proyek – proyek Negara. Proyek yang seharusnya menjadi jalan mensejahterakan rakyat justru dinikmati parpol.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Powered By Blogger

Pengikut

My Home

Jln. Bengawan Solo no.93 RT.02 RW.01 Kanor Bojonegoro

About Me

Min Rohmatillah, biasa dipanggil Iin, Lahir di Bojonegoro 14 Juni tahun 1993. TK ABA, MI ALFALAH, SMP N 1 SUMBERREJO, SMA N 1 BOJONEGORO, Dokter hewan yang menyukai design grafis. Punya Motto Good No God = 0, dan punya mimpi jadi dokter hewan ditengah hutan pulau Borneo (doain bisa ya..). u can follow my instagram @min_rahmatillah to watch my galery

Copyright © Min Rahmatillah -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan