Kamis, 05 Mei 2016
“it’s not about the destination, but it’s about the jurney to get there”
-          Koran Jawa Pos

Gara-gara saya baca koran yang lagi cerita couple traveler, saya jadi bawa perasaan, jadi pengen travel. But, still i ask money to my parents, saya emang gak mau pergi-pergi yang cuman main doang. Jadi biasanya kalo pas ada acara diluar kota, bisalah disambi main.
Oke singkat tulisan, saya pengen cerita pengalaman saya, judulnya “Lost in Kediri”, idih gak banget ya?? Cerita ini berawal dari bulan Januari 2014, saya merencanakan magang belajar di Dinas Peternakan Kab. Kediri. Kebetulan anggota kelompok magang semua pada jadi panitia pengabdian masyarakat, tinggal saya doang yang gak ikut (soalnya udah kapok jadi panitia tahun lalu, eheh). Karena itu saya sendiri yang harus nganter proposal magang ke dispet kab. Kediri. Udah sering ke kediri? Pernah sih tapi sama keluarga dan kayaknya cuman setiap 6 tahun sekali. Karena saya buta kediri, dan teknologi GPS  masih asing ditelinga, saya cuman berbekal arahan temen yang kebetulan asli kediri.
Dari terminal Landungsari, Malang, saya naik bus Puspa Indah jurusan Malang Kediri. Berbekal sms dari temen, saya nekat berangkat. Berangkat pukul 09.00 WIB dan sampai di Kediri pukul 12.00 WIB. Kantor Dispet Kab. Kediri berada di Jl. Pamenang, sehingga dari arah Malang saya turun di Lampu Merah sebelum Pendopo Kab. Kediri (Lupa namanya apa). Turun dari Bis saya tidak langsung menuju tempat tujuan, sempat berjalan – jalan di daerah pendopo. Dari arah pendopo menuju jalan pamenang bisa ditempuh dengan jalan kaki, kalau saya prefer naik becak, pertama karena capek, yang kedua yah itung itung sekalian jadiin tukang becak tour guide. Karena saya gak tau jalan pamenang ada dimana, dengan prinsip malu bertanya sesat dijalan, berkat bantuan tukang becak juga, akhirnya saya sampai di kantor. Dan apakah kalian tau sampai dikantor, pegawai dinas hanya meminta saya menaruh proposal, dan meminta kembali 3 hari lagi. So, bayangin deh, setelah 3 jam perjalanan, saya cuman 5 menit ditempat tujuan. Rasanyaaaa!!!! Baca istighfar yang banyak aja deh.
Dari kantor saya diantar ke halte sama bapak tukang becak. Bapaknya ini baik, namanya pak Thoyib, 2 tahun lalu usianya masih sekitar 60 tahun an. Sembari menunggu bis ke arah jombang, saya menghabiskan waktu di halte sambil mengobrol dengan pak thoyib. Pak Thoyib ini banyak cerita, bapak ini duda dengan 3 anak (agak lupa sih) dan anaknya sudah berkeluarga. Meskipun anaknya sudah berkeluarga, bapak ini masih tetap semangat mengais rejeki, tidak mau menggantungkan ke anaknya. Sebenarnya bukan karena anaknya gak ngurus sih, tapi bapak ini ingin mandiri. Selain cerita keluarga, bapak ini juga nanya nanya banyak hal tentang saya, dan saya pun nanya nanya wisata yang ada dikediri. Pak Thoyib ini lebih nyaranin saya untuk main ke simpang lima nggumul, selain satu jalan, disekitar situ juga ada water park, kali saya mau mandi sekalian. Karena bis jombang gak kunjung lewat padahal udah nungguin sekitar 1 jam, saya memutuskan untuk menyetujui saran pak thoyib buat main ke nggumul dulu. Dari halte tempat saya berhenti tadi ( sebelum pendopo) kita bisa naik angkot. Bapak thoyib ini baik, beliau yang mencarikan saya angkot, waktu saya naik pun bapak in tak lupa menitipkan saya ke sopir angkot. “Titip temanku ya mas, nanti turun di simpang lima nggumul” kata pak thoyib ke sopir angkot. Di angkot saya menjadi pusat perhatian, maklum jarang ada mbak mbak masih muda (cantik :D) main main sendirian. Angkot yang sebagian ditumpangi ibu ibu ini berjalan agak lambat, tak lupa ibu ibu ini menghujani saya banyak pertanyaan, “ mbak ngapain main ke kediri sendiri? Masih sekolah apa gimana?” begitulah sederet pertanyaan. Untung gak ada yang nanya “ mbak nggak kabur dari rumah kan?” :D

Setelah sekitar 30 menitan, yeeyyy saya sampai di simpang lima nggumul. Ya sebenarnya sih gitu doang, cuman benteng gitu aja tapi bagus buat foto-foto dan gak usah jauh jauh ke paris. Sialnya, karena main sendiri ya gak ada yang fotoin, cuman selfie selfie gak jelas gitu. Ya gak papa lah, daripada cuman nganter proposal terus balik pulang. Setelah sekitar 30 menit berjalan-jalan, saya memutuskan balik, takut kesorean.

Rute balik, nampaknya lebih ruwet daripada pas berangkat. Dari simpang lima nggumul saya berjalan menuju ke sisi timur monumen, menyebrang ke kiri jalan biar mudah naik bisnya. Saya sebenarnya takut kalau jalan yang saya ambil salah, tapi menurut papan arah sih bener. Karena saya meu ke bojonegoro, tugas saya adalah mencari bis jurusan kediri surabaya, biar nanti bisa turun di terminal jombang. Tetapi saya sudah menunggu hampir 2 jam dan gak ada bis yang lewat. Yang namanya pendatang tanpa pengalaman, selama menunggu banyak hal yang saya takutkan “jangan jangan saya salah arah” gumam saya dalam hati. Sesekali saya bertanya ke orang untuk meyakinkan kalo saya tidak salah arah. Saya pastikan kembali dengan telfon temen saya yang asli kediri, telfon ibuk saya yang juga orang kediri coret. Yah karena saya kelamaan menunggu, akhirnya saya putuskan naik bison (angkutan daerah, semacam elf) jurusan kediri pare. Sepertinya hari itu saya sedang sial, karena bison yang saya tumpangi gak langsung berhenti terminal, dan saya diturunkan di pasar pare yang saya cuman pernah lewat. Ditengah hiruk pikuk pasar yang masih ramai, meskipun sudah pukul 16.00 WIB, saya memberanikan diri berjalan jalan dan bertanya angkutan apa yang bisa membawa saya ke jombang. Dan alhamdulillah tidak lama, bison jurusan jombang lewat didepan saya. karena kelelahan, saya tertidur pulan disepanjang perjalanan pare-jombang.

Hampir sampai di terminal jombang, saya kepikiran, uang didompet saya tinggal berapa rupiah ya. Ada sekitar 10 ribu rupiah didompet, pengeluaran yang saya perkirakan ternyata melebihi budget. “cukup gak ya” itu pertanyaan dasar. Detik detik menjelang sampai, mata saya tertuju disetiap sudut jalan yang dilewati bison, ya saya mencari atm, saya takut kehabisan uang. “horeee ada atm” sorak saya dalam hati. Jarak atm dari bis tujuan berikutnya sekitar 500 meter. Karena bison saya berhenti tepat dibelakang bis tujuan berikutnya, saya lari terbirit menuju atm, takut kalo ketinggalan bis, maklum hari sudah mulai gelap.
Akhirnya saya bisa pulang dengan tenang, gak kebayang pengalaman seharian. Yah untung saya masih bisa selamat setelah lost in the kediri.

Ini salah satu sisi dari monumen simpang lima nggumul, maklum udah 2 tahun lalu jadi fotonya rada alay, diedit diedit gitu.


PS:
1.      Kalo pergi kemana mana pastikan kamu sudah punya jadwal kegiatan selama ditempat tujuan
2.      Pastikan ongkos kendaraan, tanya kepada yang biasa, jangan sampai kamu kehabisan uang

3.      Jangan lupa bawa atam, meskipun gak ada isinya, kan kalo ada apa2 bisa minta tolong saudara/ temen buat transfer :D

Lost in Kediri

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Sabtu, 05 September 2015
Haiii sobat blogger, mungkin tidak banyak diantara kalian yang sering mampir ke "rumah" ini, tapi buat kalian yang sering mampir, jangan kuatir insyaAllah saya akan aktif ngeblog lagi dalam beberapa bulan ini, maklum sekarang udah jadi pengangguran. see you di tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat.

SEKILAS INFO!!!

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Malang, Rabu (19/08/2015) pukul 09.30 WIB saya dinyatakan lulus ujian komprehensif guna mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Hewan (S.KH). bisa lah sedikit menyombongkan diri dengan tambahan gelar dibelakang nama, meskipun belum sah karena belum yudisium. Sejenak setelah keluar ada beberapa hal yang menjadi renungan saya, kenyataan bahwa pada saat sidang, masih banyak hal yang belum tidak bisa saya jawab pada saat ujian, padahal sesaat sebelum masuk saya agak sombong karena bingung mana lagi yang belum saya pelajari.
            Semester akhir buat saya mengajarkan banyak hal, kesabaran yang tanpa batas, syukur yang tanpa batas, doa tanpa batas, dan satu lagi, belajar tanpa batas. Saya tergolong lambat dalam lulus, karena udah banyak temen saya yang lulus duluan, kadang ada sih muncul rasa iri. Dalam masa penantian (kelulusan) saya mencoba mengambil hikmah, sebenarnya dibanding dengan teman-teman seangkatan yang lulus duluan, saya punya banyak waktu untuk mengkaji hasil dari penelitian saya, memperdalam materi, dan menghubungkan dengan ilmu yang berkaitan atau kerenya mencoba berfikir secara komprehensif (asik). Ternyata semakin saya membaca skripsi saya, banyak hal yang masih saya belum ketahui, dan menyadari bahwa ilmunya Allah begitu luas, ada yang bilang “jika ranting-ranting dan daun-daun dikumpulkan, seluas luasnya samudera dan besarnya jagad bumi, tetap saja tidak bisa menandingi ilmunya Allah”.
So, jangan cepat puas guys, ingat semakin kita berilmu, semakin banyak hal yang tidak kita ketahui, sejatinya orang yang pandai adalah orang yang merasa paling bodoh.

NB:

Special thanks : Allah SWT & Muhammad our prophet, mom & Djufri’s Family, all members of  C Class Vetrinary Medicine (2011) Brawijaya University, Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES & Dr. Agung Pramana Warih Marhendra, M.Si, Predator (Pregnancy Early Detector)  team  (Hilda mil, Sonnya, Getty, & Palu), Biochemistry Laboratorium Familiy, DIKTI, dr. Edi boarding house, etc.






Belajar Tanpa Batas

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Sabtu, 29 Agustus 2015
cerita ini saya tidak tahu apakah benar atau tidak, karena disadur dari bapak sopir angkot LDG kota Malang ketika saya menjadi penumpang angkot tersebut. 

***
kita yang lama atau mungkin sering berkunjung ke Kota Malang tentu saja hafal, dimana ada lampu merah pasti disitu bisa dijumpai anak-anak sampai orang tua meminta minta. sebagai seorang manusia, normal jika kita merasa kasihan, tapi tidak banyak juga yang malah merasa jengkel. perasaan yang bermacam-macam ini tidak bisa disalahkan, karena saya pun juga seperti itu, awalnya kasihan dan terkesima, lama kelamaan jengkel juga karena setiap hari meminta minta.
siang hari di Kota Malang begitu cerah, tidak mendung, tapi matahari tidak terlalu menyengat. kebetulan saya sedang menunggu angkot untuk pulang ke kosan, dari arah Jl. Terusan Ijen saya menuju ke arah Jl. Bandung, tidak lama angkot LDG lewat, dan saya pun naik.

***
angkot berjalan lurus tanpa berhenti. tak lama angkot yang saya tumpangi berhenti karena traffic light didepan masjid MAN 3 Malang. satu, dua, tiga, saya menghitung jumlah anak-anak yang sedang meminta minta, ternyata lebih dari lima, dan yang mengejutkan disaat anak-anak kecil ini meminta minta ternyata ada seorang perempuan usianya sekitar 40 tahunan sedang berleha leha dibawah pohon yang ada di taman sekitar jalanan tersebut, dan sepertinya ibu tersebut sedang mengandung.

"omah mu ndi??"(1) tanya bapak sopir angkot kepada anak-anak peminta-minta tersebut, "wes oleh duit piro?"(2) lanjut bapak sopir angkot. "akeh, oleh sak trek" jawab salah satu anak yang meminta. anak-anak itu terus menadahkan tangan ke penumpang angkot. sepertinya lampu merah kali ini berlalu lama sama sekali sehingga anak-anak peminta punya kesempatan panjang untuk terus menadahkan tangan. "dek ini ya dibagi ber 3" salah satu ibu penumpang angkot memberikan uang 10 rb kepada anak tersebut. "nanti kalau sudah punya uang banyak sekolah yang rajin ya" pesen bapak angkot kepada anak - anak peminta tersebut.





Angkot berjalan dan bapak sopir angkot mulai angkat bicara fakta mengenai pengemis pengemis yang memadati kota Malang. saya pun sedikit "kaget" bahwa kenyataan malang dipenuhi pengemis dari luar kota, apalagi jika memasuki bulan-bulan puasa, seolah pengemis ini di drop untuk mengais rejeki di kota ngalam ini. bagaimana dengan pengemis asli malang?? bapak sopir angkot mengungkapkan pengemis yang asli malang rata-rata berusia 50 tahunan, kemudian jika kita mengunjungi perumahan makam cina (saya juga gak tau itu dimana) kita akan menemukan rumah yang mewah dan bertingkat, tidak sedikit tapi banyak, disitulah rumah para pengemis tinggal, sehingga kampung itu disebut kampung "pengemis" karena ternyata pengemis yang kebanyakan berusia separoh abad ini saling bertetangga lanjut pak sopir angkot. pak sopir angkot ini awalnya juga merasa iba, sesekali jika para nenek-nenek pengemis ini ikut angkotnya, sering tidak dipungut biaya alias gratis. suatu hari pak sopir angkot ini tidak sengaja mendapati salah seorang nenek pengemis di pasar dan sedang berbelanja, pak sopir angkot terkaget karena nenek ini memiliki tampilan yang berbeda dari biasanya, bahkan tidak kelihatan lusuh, malah seperti orang kaya yang sedang mborong. "loh mak" sapa pak sopir angkot, sontak nenek itu menjawab "mau gak ngangkutin kulkas sampai rumah, tenang aja nanti saya bayar lebih". bapak sopir angkot kaget, apalagi ketika sampai dirumah nenek tersebut yang ternyata lebih mewah dibandingkan rumah bapak sopir angkot yang "reot" katanya. pak sopir angkot melanjutkan cerita, "nenek itu juga ngasih tau saya, yang rumah tingkat itu rumahnya mak mawar (nama samaran), kalo yang itu rumah pak budi (nama samaran)". sehingga bapak sopir angkot ldg ini sekarang terlihat kurang respect ya karena itu ternyata yang ditolong selama ini jauh lebih mampu. 

****
hal diatas merupakan sisi lain dalam kehidupan yang kita tidak pernah ketahui, terkadang dunia kejam karena kita mungkin yang terlalu lemah. 

NB : tidak semua pengemis mungkin seperti apa yang saya ceritakan berdasarkan cerita pak sopir angkot, yang jelas tidak ada yang sia-sia dalam setiap amal yang kita perbuat, karena Allah yang menilai, bukan manusia.

Dibalik Wajah Melas "PENGEMIS"

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Minggu, 12 Juli 2015
Berbicara tentang cinta, saya berharap suatu saat nanti bisa dipertemukan dengan seseorang yang bisa menulis, jika ia tak suka menulis, setidaknya dia suka membaca, sehingga kita bisa berbagi cerita.
Sepenggal kata diatas jangan dianggap terlalu serius, karena pada tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang yang aneh-aneh, hanya berbagi kisah tentang kecintaan saya dengan salah satu komunitas jurnalistik atau pers mahasiswa kedokteran hewan UB yang memiliki nama CANDIDA.
CANDIDA (bukan jamur) berdiri sekitar tahun 2013, sejujurnya bukan saya sendiri saja yang terlibat dalam pembentukan komunitas persma tersebut, akan tetapi ada sekitar 8 orang hebat lain yang turut andil dalam membangun CANDIDA. kenapa saya ingin ada persma di fakultas saya? Karena menurut saya kehadiran pers mahasiswa sangat diperlukan sebagai sebuah lembaga yang netral dan memberikan kabar teraktual tanpa adanya intervensi dari pihak manapun, dan di fakultas saya belum ada pada saat itu.
Saya bersyukur karena almarhum bapak saya, meskipun tinggal dipelosok desa disebuah kota kecil bisa berlangganan koran, meskipun ibu saya ngomel-ngomel karena menganggap langganan koran itu tidak penting. Dari kebiasaan membaca koran sejak kecil, saya mulai menyukai dunia kepenulisan dan sempat berniat menjadi wartawan. Akhirnya cita-cita saya menjadi seorang wartawan (gadungan) bisa tercapai ketika saya menjadi salah satu staf muda dept. Infokom BEM PKH UB 2012 yang kemudian pada tahun 2013 diamanahkan menjadi pimpinan utam komunitas pers mahasiswa CANDIDA.
with all crew, first gathering about two years ago

Banyak tantangan? Pasti iya, bahkan seolah ada bekas lama yang tak kunjung sembuh (apa sih, heheh). Diawal kepengurusan pasti banyak cemohan (kurang tahu pasti), banyak yang ngomongin dibelakang, tapi buat saya semua itu bukan masalah penting toh banyak yang merasakan kebaikan dari komunitas kecil ini. Niatan yang baik tentu saja akan membuahkan hasil yang baik, dan insyaAllah dibentuknya CANDIDA adalah dengan tujuan yang baik pula. Menjelang lulus (semoga disegerakan) seolah saya masih belum bisa move on dari komunitas kecil ini, apalagi CANDIDA lagi naik daun, semangat temen-temen kepengurusan 2015 ini membuat saya ingin terus mendampingi adik-adik yang mayoritas perempuan. Sayangnya “usia” ini membatasi diri untuk tidak belama-lama. Dunia yang lebih luas telah menunggu untuk menempa saya, masyarakat telah menunggu ilmu dan kontribusi saya sebagai calon dokter hewan. Well¸ tetep aja meskipun gak mau, sebentar atau lama memang saya kudu ninggalin si jamur yang lagi berkembang, tapi percayalah masih ada cinta untuk CANDIDA pers mahasiswa FKH (mudah-mudahan segera jadi fakultas) UB. Karena cinta tak mengenal usia, jadi sampai kapan pun saya gak bakalan lupa sama CANDIDA, mungkin feel nya beda sama organisasi-organisasi lain yang pernah saya ikuti, karena CANDIDA adalah cerita tersendiri buat saya.  
Akhirnya cerita ini sampai diujung. Hanya ingin berpesan buat adik-adik penerus dan calon penerus CANDIDA, jangan mudah putus asa karena pasti akan banyak tantangan di masa depan, ketika perjuangan kita sekarang seolah tidak menghasilkan apa-apa, ingatlah bahwa ketika kita berbicara tentang perjuangan maka kita tidak membicarakan hasil, tetapi ingatlah bahwa kita menjalani proses dimana suatu saat apa yang telah kita perjuangkan akan membuahkan hasil, tidak dalam satu hari, mungkin dua minggu, satu bulan, bahkan bertahun-tahun.

                        Malang, 12 Juli 2015

CINTA TAK MENGENAL USIA

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Jumat, 24 April 2015
Pernah mungkin diantara kita merasa “sungkan” karena sering merepotkan orang lain. Hal yang wajar memang jikalau itu benar terjadi. Barangkali saya masih terlalu muda untuk menyampaikan pesan ini, ya usia belum genap separo abad, baru secuil daratan yang dikunjungi, hampir berkunjung ke negeri sakura tapi batal akhirnya. Sedikit pengalaman tapi hati tergerak ingin berbagi kisah.

Saya tidak bermaksut pamer atau sombong, terserah apalah anda menyebutnya. Sekali lagi, saya hanya ingin berbagi. Saya memang bukan orang yang terampil bahkan cenderung “kosro” akan tetapi saya termasuk orang yang mudah iba dan mudah merasa “tidak enak”. Sehingga jika ada yang meminta bantuan kapada saya, susah sekali untuk menolak. Seandainya pun saya menolak dalam hati saya muncul gejolak “rasa tidak enak” bahkan bisa membuat saya tidak tidur semalaman karena kepikiran. Rasanya senang jika pribadi yang penuh kekurangan ini bisa membantu orang lain meskipun tidak banyak yang bisa dibantu. Tidak ada keinginan sekalipun ingin meminta sesuatu atau imbalan atas bantuan tersebut, ya hanya senang, memuaskan batin.

Muncul rasa marah terhadap diri ketika saya mulai acuh terhadap beban berat yang dirasakan oleh orang lain. Sungguh kita sebagai seorang hamba memang wajib bersyukur terhadap segala nikmat dari yang maha kuasa. Allah yang maha membolak balikan hati dan betapa mengucap syukur tiada kira hati ini tetap dijaga untuk selalu merendah. Terkadang pastilah terlintas dalam benak kita bahwa ketika kita sering menolong orang lain berharap selalu ada pertolongan jika kita diposisikan memiliki beban yang teramat berat. Dan ketika kita mendapat pertolongan dari orang lain pasti akan terlintas dalam pikiran kita “ karena dia membantu saya ketika dalam susah maka sekarang gantian saya yang membantu dia jika memang memrlukan uluran tangan”. Ketahuilah bahwa sejatinya rasa terimakasih kita kepada orang lain itu tidak bersyarat dan tidak berbalas.

Rasa Terimakasih itu tidak Berbalas dan Besyarat??
Maksutnya adalah seseorang yang mendapat bantuan dari orang lain sejatinya tidak terikat satu sama lain. Fenomena yang lumrah ditemui adalah si penolong merasa sangat berjasa terhadap orang yang ditolong padahal hanya hal sederhana diungkit ungkitnya sampai mati dan yang ditolong seolah memiliki beban membalas sampai mati pula. Sehingga terjadilah saling tolong menolong karena “sesuatu” yang tidak membantu ya tidak usah dibantu atau membantu yang selalu membantu. Menurut hemat saya ya sudahlah kita menolong saja, kita membantu saja atas dasar panggilan hati bukan karena beban dia pernah menolong atau sebagainya. Namun tetap saja janganlah menjadi orang yang tidak tahu terimakasih. Sangat sombong orang yang tidak bisa berterimakasih dengan tulus, berterimakasih jangan dianggap beban yang harus dibalas sesuai imbalan, cukup berterimakasih dari hati yang tulus sehingga orang yang kita beri ucapan pun merasakan betapa indahnya ketulusan yang dipancarkan.




Sedikit pesan dari pribadi yang sekali lagi belum berusia separo abad, bahkan seperempat abad pun belum masuk. Mandirilah terhadap apa yang menjadi kepentingan pribadi, berusaha tidak selalu berpangku tangan kepada orang lain, tetapi sebaliknya senantiasa mengulurkan tangan dengan segenap hati kepada yang membutuhkan bukan karena syarat.

Rasa Terimakasih itu tidak Berbalas dan Besyarat??

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Jumat, 30 Januari 2015
Zaman yang serba modern ini sedikit banyak telah mengubah gaya hidup masyarakat tidak terkecuali di Indonesia. Salah satu bentuk perubahan pola hidup yang ada dimasyarakat adalah trend memelihara satwa langka. Trend memelihara satwa langka ini mulai ramai dikhalayak sekitar 3 tahun terakhir. Kemajuan teknologi merupakan salah satu faktor yang mendorong adanya perubahan tersebut. Hanya dengan duduk santai seseorang dengan mudah mendapatkan hewan langka yang diinginkan seperti burung hantu, buaya, orangutan, bahkan harimau.
Setiap mahluk hidup memiliki hak untuk melangsungkan kehidupan dan didayagunakan untuk kepentingan kemaslahatan manusia. Memperlakukan satwa langka dengan baik, dengan jalan melindungi dan melestarikanya guna menjamin keberlangsungan hidupnya hukumnya adalah wajib. Dalam dunia kedokteran hewan dikenal Five freedom untuk mengakkan kesejahteraan hewan (Animal Welfare). Five freedom tersebut berisikan :
1.      Freedom from hunger and thirst (bebas dari rsa haus dan lapar)
2.      Freedom from discomfort (bebas dari rasa tidak nyaman)
3.      Freedom from pain, injury, and disease ( bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit)
4.      Freedom to behave normally (bebas untuk mengekspresikan perilaku alami)
5.      Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan tekanan)
Kondisi yang terjadi dimasyarakat beda adanya. Mereka menganggap hewan langka seperti hewan kesayangan. Secara kasat mata memang terlihat baik – baik saja, akan tetapi jika ditilik kembali, permasalahan yang begitu rumit akan bermunculan. Poin – poin yang telah disebutkan diatas hanya sebagian kecil  yang telah terpenuhi. Seperti pemenuhan kebutuhan dasar misalnya, pemilik setiap hari memberi makan hewan liar kesayanganya, tidak pernah telat, bahkan harga makanan satwa lebih mahal daripada harga makanan untuk pemiliknya. Pemilik rela tidak makan asal satwa langka kesanyanganya makan. Kemudian yang menjadi pertanyaan apakah pakan yang diberikan sudah benar?? Orangutan yang biasanya makan buah-buahan kini diberikan roti, orangutan yang biasanya makan sendiri, kini makan disuapin si pemilik. Hal – hal kecil seperti ini tanpa disadari telah menyakiti satwa liar yang telah berubah menjadi hewan “kesayangan”. Sistem pencernaan antara satwa liar tidak bisa disamakan dengan manusia yang bisa makan segala. Tidak semua yang bisa dimakan manusia bisa dimakan oleh satwa liar bahkan semua binatang.
Pada poin freedom from discomfort (bebas dari rasa tidak nyaman) apakah pemilik mampu menjamin satwa  “kesayangan” nya bebas dari rasa tidak nyaman? Bagaimana pemilik bisa mengetahui bahwa satwa yang dipelihara merasa tidak nyaman jika pemilik benar-benar tidak memahami satwanya. Terkadang pemilik lupa bahwa hewan langka yang kebanyakan adalah hewan liar, pemilik mengajak bermain seolah hewan tersebut adalah hewan kesayangan seperti anjing dan kucing, perlahan sifat alamiah dari si hewan akan memudar.
Poin yang paling ditekankan adalah Freedom to behave normally (bebas mengekspresikan perilaku alalmiah). Poin ini menjadi penting karena pada satwa langka yang kebanyakan adalah satwa liar memiliki habitat yang beda dan jauh dari keramaian. Kebanyakan dari satwa langka tinggal dihutan yang masih perawan, sehingga akan kaget melihat tempat tinggal yang bisa jadi pemilik tidak menuesuaikan dengan kondisi diamana satwa tersebut tinggal. Selain itu untuk regenerasi, satwa langka tersebut membutuhkan pasangan, bila pemilik tidak peka maka pemilik telah melanggar five freedom pada poin Freedom to behave normally. Jangan sampai apa yang telah menjadi niatan baik dari pemilik justru menjadi penjara bagi satwa langka yang dipelihara.
Poin yang tak kalah penting adalah Freedom from fear and distress ( bebas dari rasa takut dan tekanan). Berbeda dengan pet animal (hewan kesayangan), satwa langka yang kebanyakan satwa liar memilik sifat alamiah liar akan menimbulkan polemik tersendiri jika dipelihara. Pada saat hewan dalam kondisi tidak nyaman atau tertekan, sifat alamiah dari hewan tersebut akan keluar, dan pada kondisi ini jelas akan mengancam keselamatan dari pemilik. Hewan bisa menyerang pemilik dan bahkan tidak mengenal siapa pemiliknya. Tak heran jika banyak kejadian seperti di kebun binatang, keeper yang sangat dekat dengan hewan liar justru menjadi korban, bahkan berujung pada kematian. Hal inilah yang harus dipahami oleh pemilik, bukan saja pada hukum pidana yang melarang memelihara hewan langka, akan tetapi juga memperhatikan keselamatan dari pemilik.

Freedom from pain, injury, and disease (bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit) seharusnya menjadi poin yang menjadi pertimbangan pemilik untuk menjadikan satwa langka menjadi hewan peliharaan. Hampir sebagian besar penyakit yang diderita oleh hewan langka bersifat zoonosis, dan banyak sekali penyakit zoonosis asal hewan langka yang belum diketahui. Sehingga pemilik harus benar-benar waspada dan menjaga kebersihan agar tidak tertular. Apakah pemilik telah benar-benar faham akan kondisi tersebut?
Akibat yang ditimbulkan karena kesalahan manusia dari memelihara satwa langka seperti harimau, badak, gajah dan orangutan, serta berbagai jenis reptil, mamalia, dan aves terancam punah. Memelihara satwa langka terlanjur menjadi trend masa kini. Siapa yang harus disalahkan? Tidak perlu saling menyalahkan karena hal ini menjadi PR kita bersama. Bagaimana pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dokter hewan, aktivis konsevasi bahkan tokoh agama bekerja sama untuk satu tujuan meluruskan bahwa tindakan memelihara hewan langka adalah tindakan yang salah

Tuhan menciptakan satwa langka tersebut untuk menjaga keseimbangan ekosistem bukan sebagai hewan kesayangan yang bisa diajak untuk bermain bahkan untuk dieksploitasi. Sejatinya manusia terlahir untuk bisa menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarianya sehingga tidak terjadi kerusakan. Tidak memelihara hewan langka dan tidak menjadikan hewan tersebut sebagai hewan kesayangan merupakah satu langkah kecil untuk turut andil dalam menjaga keselamatan hewan.

NB : sorry ya gan kalo artikelnya gak bagus, ini pernah saya ikutin essay competition tapi gagal (hahah) kalo mampir kesini boleh dah kasih komentar. Thanks :D



“SATWA LANGKA BUKAN HEWAN KESAYANGAN”

Posted by Sanguine bercerita tentang hidup
Powered By Blogger

Pengikut

My Home

Jln. Bengawan Solo no.93 RT.02 RW.01 Kanor Bojonegoro

About Me

Min Rohmatillah, biasa dipanggil Iin, Lahir di Bojonegoro 14 Juni tahun 1993. TK ABA, MI ALFALAH, SMP N 1 SUMBERREJO, SMA N 1 BOJONEGORO, Dokter hewan yang menyukai design grafis. Punya Motto Good No God = 0, dan punya mimpi jadi dokter hewan ditengah hutan pulau Borneo (doain bisa ya..). u can follow my instagram @min_rahmatillah to watch my galery

Copyright © Min Rahmatillah -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan